Memahami Anak Sebelum Menentukan Strategi Pembelajaran: 50 Guru SD Jakarta Timur Belajar Deteksi Dini dengan Empati

JAKARTA — “Anak ini malas.” “Anak ini tidak fokus.” “Anak ini sulit diatur.” Kalimat-kalimat seperti itu terkadang muncul ketika guru menghadapi anak yang mengalami kesulitan di kelas. Namun, perilaku yang terlihat belum tentu menceritakan keseluruhan kondisi anak. Di baliknya, bisa ada kebutuhan, kemampuan, pengalaman, dan cara belajar yang perlu dipahami terlebih dahulu.

Pesan inilah yang mengemuka dalam Workshop dan Pengembangan Guru GLITERJAK T2 bertema “Deteksi Dini dengan Empati: Peran Guru SD dalam Mengenali Karakteristik dan Kebutuhan Khusus Anak pada Masa Awal Sekolah Dasar”. Kegiatan yang berlangsung di SMAN 58 Jakarta pada Selasa, 22 September 2026 ini diikuti sekitar 50 guru sekolah dasar dari wilayah Jakarta Timur 2.

Kegiatan dibuka oleh Urip Tarsam, Kepala Seksi Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, bersama Horale Tua Simanulang, Kepala Suku Dinas Pendidikan Kota Administrasi Jakarta Timur Wilayah 2. Sejumlah ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD dari setiap kecamatan turut hadir.

Workshop ini berangkat dari situasi yang dekat dengan keseharian sekolah: ada anak yang kesulitan mengikuti instruksi, mengalami hambatan membaca, mudah frustrasi, meninggalkan tempat duduk, atau menghindari kegiatan tertentu. Alih-alih terburu-buru memberi label, guru diajak berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan yang lebih membantu: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada anak, dan dukungan apa yang dibutuhkannya?

Melalui pendekatan “See the Child”, peserta diajak melihat anak secara utuh—bukan hanya dari masalah atau perilaku yang tampak, tetapi juga dari kekuatan, kemampuan, kebutuhan, dan cara belajarnya. Pendekatan ini menempatkan pengamatan yang cermat sebagai langkah awal sebelum guru memilih strategi pembelajaran atau dukungan.

Perspektif dari lingkungan sekolah disampaikan oleh RR. Baiduri NW, S.Pd., M.Si., CP, Ht, CP.NLP., Konselor Anak, Remaja dan Keluarga. Ia mengajak peserta memahami bahwa guru kelas dan guru bimbingan konseling (BK) dapat memiliki sudut pandang serta peran yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi. Kolaborasi menjadi penting ketika seorang anak menghadapi hambatan belajar, perilaku, atau fungsi sosial dan membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Selanjutnya, Dr. Julita Lea Lestari, MBA, ACAS, CAPT, SAP-K, CH., CHt., dokter dan konsultan anak berkebutuhan khusus, menyampaikan materi “How to Become an Impactful Teacher”. Ia menekankan bahwa guru yang berdampak bukan hanya mampu menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga berupaya memahami siapa anak yang sedang dihadapi sebelum menentukan pendekatan.

Untuk membantu proses tersebut, peserta diperkenalkan dengan kerangka 5M: Masalahnya Apa, Muncul di Mana, Melakukan Apa, Mampunya Apa, dan Membutuhkan Apa. Kerangka ini membantu guru mengamati situasi secara lebih sistematis. Peserta juga mempelajari prinsip “Lihat, Dengar, Hitung” agar informasi yang dicatat bertumpu pada hal-hal yang dapat diamati, bukan sekadar kesan atau asumsi. Pendekatan ABC turut diperkenalkan untuk membantu memahami konteks dan fungsi perilaku.

Pengamatan kemudian diarahkan menjadi langkah yang lebih terstruktur melalui tiga formulir. Form 1 digunakan untuk deteksi dan penyusunan profil belajar anak. Informasi dari tahap ini dapat menjadi dasar untuk menyusun Form 2, yaitu Program Pembelajaran Individual. Sementara itu, Form 3 digunakan ketika perilaku tertentu perlu diamati dan dianalisis lebih lanjut untuk merancang dukungan yang sesuai.

Materi tidak berhenti pada penjelasan teori. Yuliana Jamal, S.Pd., Gr., M.Si., CH., CHt., Konsultan Program dan Parenting Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus, memandu peserta melalui dua studi kasus. Contoh situasi juga ditampilkan melalui video. Peserta berlatih mengamati apa yang terjadi, memilah informasi yang relevan, mendiskusikan hasil pengamatan, lalu menuangkannya ke dalam Form 1, Form 2, dan Form 3.

Ketiga narasumber mendampingi proses praktik secara bersama-sama. Peserta mendapat kesempatan menguji pemahaman, mengajukan pertanyaan, membandingkan hasil pengamatan, serta memperoleh arahan saat mengisi formulir. Suasana diskusi berlangsung interaktif hingga rangkaian kegiatan berakhir.

Melalui praktik tersebut, peserta diajak melihat bagaimana pengamatan dapat berkembang menjadi profil belajar, program pembelajaran individual, dan rencana dukungan. Sebuah perilaku dapat dipahami secara berbeda ketika guru mengubah pertanyaannya: bukan semata-mata “Mengapa anak ini bermasalah?”, melainkan “Apa yang dilakukan anak, apa yang sudah mampu ia lakukan, dan apa yang ia butuhkan?”

Workshop ini juga menegaskan batas peran guru dalam deteksi dini. Guru bukan pihak yang menetapkan diagnosis, tetapi memiliki peran penting karena berinteraksi dengan anak dalam proses belajar sehari-hari. Pengamatan yang objektif, dokumentasi yang baik, dukungan yang sesuai, serta kolaborasi dengan pihak terkait dapat membantu menentukan tindak lanjut atau rujukan profesional bila diperlukan.

Pada akhirnya, deteksi dini dengan empati bukan sekadar menemukan kesulitan yang dialami seorang anak. Lebih dari itu, proses ini mengajak orang dewasa untuk melihat dengan saksama, mendengarkan, memahami, dan membantu tanpa terburu-buru memberi label. Sebab, sebelum menentukan apa yang harus dilakukan kepada seorang anak, guru perlu terlebih dahulu memahami siapa anak tersebut. Di situlah langkah menuju sosok “impactful teacher” dimulai.

Daftar Pustaka

Open chat
Akari Info
Hello 👋
Ada yang bisa kami bantu?